Taken from here. Follow the link to here. Happy reading.A change IS going to come
I bring this up as today’s lesson: Nothing is final. One day you’re high. The next day you’re low. You might have a funky, expressive, or awful haircut today, but soon it will grow into something else, something new and random. Maybe you grew up liking pop music and boy bands, but now you like a specific mash up of Electronic & Classical. You might decide you don’t want to smoke cigarettes anymore; that it’s just not who you are. Maybe you were a staunch republican but now have curiosities about the well-spoken and well-organized Democratic Nominee. Perhaps you were madly in love last week, but woke up today feeling comfort in solitude, without a desire to be held.
Everything is fine. Not finAL.
We tend to instantly identify with “things.” And we believe in so much, when in fact, a belief isn’t known to be true. It’s a hope for the truth. We hold grudges because of what someone said when we were young. We store hurtful words and replay them in our minds until we think it to be true. And some of us believe a TV commercial and think we need a faster computer, a smarter phone, a stronger pill, a more relaxed-fit jean, etc. We think that certain things, thoughts, or actions make us who we are and sometimes we become addicted to those thoughts or behaviors and then become too afraid to let them go.
I write and post a lot therefore many people assume I have every self-published word memorized or that I live these shared thoughts constantly. This is not the case. My brain doesn’t reference myself very well actually, and I’m sure I contradict myself every other day in one way or another. One day I feel like I have all the wisdom of the world and the next day my soul wears thin and I stutter just ordering ice cream.And everything is fine.
Because I trust in the ever-changing climate of the heart. (At least, today I feel that way.) I think it is necessary to have many experiences for the sake of feeling something; for the sake of being challenged, and for the sake of being expressive, to offer something to someone else, to learn what we are capable of. These meanderings, rants, and blogs for instance, provide a great deal of comfort just sharing it, even though i put a part of myself on the line to be criticized or considered an ass.
Oh well, Courage is triumph of the soul is guess. and an Ass can still be of great service.So Remember, You have the right to change your mind.
About anything.
Anytime.
This is not the ending.
P.S. – No doesn’t mean forever. It simply means, “Not right now.”
And on the topic of Not right now, whatever happened to you in the past is not happening now.
You will be safe behind your honest decisions and mood swings.
I promise.-mraz
Berlin
Bravoooo Mr. Mraz! Now I have a reason to stay moody. =p
P.S. : I also dedicate this post to a friend who has not forgotten his high school fling. This is the time to move on, my friend. For a greater love shall come to you.
04 Januari 2009
Change is Good
03 Januari 2009
Gula-gula cinta
Kemarin ngobrol-ngobrol dengan teman lama, sembari perjalanan pulang dari restoran, di dalam mobil isi 6 orang.
Yang lain sedang seru bicara entah apa. Sementara aku dan dia, bicara dari hati ke hati. Mengejar ketinggalan selama kami tidak bertemu. Berbicara tentang perasaan.
Bagaimana rasanya menikah di usia muda?
Bagaimana perasaan yang masih tertinggal pada cinta di masa lalu?
Bagaimana menghadapi cinta yang telah mengakar dalam persahabatan?
Bagaimana dengan cinta lama yang terlupa?
Dan bagaimana melepaskan orang yang kita sayangi karena dia sudah menemukan yang dia cari selama ini?
Rasanya berjuta mengapa dan bagaimana kami bicarakan dalam perjalanan singkat itu. Kami mengaitkan si A, si B, si C, dan si D. Mereka jadi objek pembicaraan kami. Menyamakan. Lalu membedakan.
Bagaimana-bagaimana...yang tidak kami dapatkan jawabannya. Karena aku harus turun segera, dan melanjutkan perjalanan pulangku sendiri.
Aku ternyata tidak terlalu mengenalnya, dan kurasa dia juga tidak terlalu mengenalku.
Tapi aku selalu merasa beruntung mengenalnya. Dan percakapan itu, singkat tapi penuh makna. Bagai oase untuk hati ini, yang masih bingung mencari cinta.
Aku tersenyum. Aku bahagia.
Karena kamu. Karena kebersamaanmu dengannya, yang manis dan tulus bagai gula-gula.
Karena kamu dan dia, meyakinkan aku, akan cinta.
Yang lain sedang seru bicara entah apa. Sementara aku dan dia, bicara dari hati ke hati. Mengejar ketinggalan selama kami tidak bertemu. Berbicara tentang perasaan.
Bagaimana rasanya menikah di usia muda?
Bagaimana perasaan yang masih tertinggal pada cinta di masa lalu?
Bagaimana menghadapi cinta yang telah mengakar dalam persahabatan?
Bagaimana dengan cinta lama yang terlupa?
Dan bagaimana melepaskan orang yang kita sayangi karena dia sudah menemukan yang dia cari selama ini?
Rasanya berjuta mengapa dan bagaimana kami bicarakan dalam perjalanan singkat itu. Kami mengaitkan si A, si B, si C, dan si D. Mereka jadi objek pembicaraan kami. Menyamakan. Lalu membedakan.
Bagaimana-bagaimana...yang tidak kami dapatkan jawabannya. Karena aku harus turun segera, dan melanjutkan perjalanan pulangku sendiri.
Aku ternyata tidak terlalu mengenalnya, dan kurasa dia juga tidak terlalu mengenalku.
Tapi aku selalu merasa beruntung mengenalnya. Dan percakapan itu, singkat tapi penuh makna. Bagai oase untuk hati ini, yang masih bingung mencari cinta.
Aku tersenyum. Aku bahagia.
Karena kamu. Karena kebersamaanmu dengannya, yang manis dan tulus bagai gula-gula.
Karena kamu dan dia, meyakinkan aku, akan cinta.
Reuni
Hari ini adalah hari yang dinantikan, di mana hampir semua siswa IPA angkatanku berkumpul, reuni.
Diawali dengan insiden yang mengakibatkan hampir saja aku nekad berangkat sendiri naik taksi, tapi pada penghujung hari, rasanya bersyukur ikut reuni itu.
Apa ya yang bisa diamati dari teman-teman lama? Perubahan. Mereka berubah. Yang dulu biasa-biasa saja sekarang jadi makin cantik. Yang dulu cantik, tambah cantik. Cantik dewasa. Tahu kan maksudnya. Yang cowo, paling kentara adalah rambut mereka yang kebanyakan dipanjangkan, dengan poni miring yang agak tebal. Gaya rambut yang selalu mengingatkan aku akan pria bule yang mengibaskan rambutnya bak model iklan shampo (seperti Prince Charming di Shrek 3 itu lho...hehehe....). Memang imajinasi yang agak berlebihan. =P
Senangnya, acara reuni bisa dinikmati semuanya. Seperti biasa ada beberapa orang yang dijadikan sasaran kegilaan teman-teman yang lain. MC juga sangat pintar membawa suasana. Apalagi ada penampilan dari teman yang bisa memainkan saksofon. Wooww... Dan dia memainkan mars sekolah kami dulu, dan kami bernyanyi bersama. Padahal sebelumnya, kita panitia berpikir bakal garing banget ngajak anak-anak nyanyi mars itu. Hehehe...
Surprise buat ketua panitia juga berjalan lancar. Dia tidak menyangka sama sekali. Semoga dia sedang menangis terharu sekarang. Hahaha....
Begitulah hari ini. Ada cerita lain sih. Tapi untuk posting yang lain saja. =P
Diawali dengan insiden yang mengakibatkan hampir saja aku nekad berangkat sendiri naik taksi, tapi pada penghujung hari, rasanya bersyukur ikut reuni itu.
Apa ya yang bisa diamati dari teman-teman lama? Perubahan. Mereka berubah. Yang dulu biasa-biasa saja sekarang jadi makin cantik. Yang dulu cantik, tambah cantik. Cantik dewasa. Tahu kan maksudnya. Yang cowo, paling kentara adalah rambut mereka yang kebanyakan dipanjangkan, dengan poni miring yang agak tebal. Gaya rambut yang selalu mengingatkan aku akan pria bule yang mengibaskan rambutnya bak model iklan shampo (seperti Prince Charming di Shrek 3 itu lho...hehehe....). Memang imajinasi yang agak berlebihan. =P
Senangnya, acara reuni bisa dinikmati semuanya. Seperti biasa ada beberapa orang yang dijadikan sasaran kegilaan teman-teman yang lain. MC juga sangat pintar membawa suasana. Apalagi ada penampilan dari teman yang bisa memainkan saksofon. Wooww... Dan dia memainkan mars sekolah kami dulu, dan kami bernyanyi bersama. Padahal sebelumnya, kita panitia berpikir bakal garing banget ngajak anak-anak nyanyi mars itu. Hehehe...
Surprise buat ketua panitia juga berjalan lancar. Dia tidak menyangka sama sekali. Semoga dia sedang menangis terharu sekarang. Hahaha....
Begitulah hari ini. Ada cerita lain sih. Tapi untuk posting yang lain saja. =P
02 Januari 2009
Si Jaya bicara...
Damn...
Kalau si sanguin dalam diriku ini sudah melewatkan tahun baru tanpa tujuan dan to do list di tahun baru ini, ternyata si melankolis...eh koleris...tapi kayanya... melankolis ini belum mau melepaskan momen itu begitu saja. Mungkin gara-gara itu, tanggal 1 Januari 2009 malam, aku merasakan ketakutan itu lagi.
Takut seperti apa?
Bayangkan kamu bermain wahana Kora-kora di Dunia Fantasi, Ancol. Duduk paling ujung. Dan ayunan perahu raksasa itu berada di titik tertinggi. Sembilan puluh derajat.
Napasmu tertahan. Jantungmu berhenti sedetik. Lalu jatuh. Dan sensasi itu terasa di perutmu, membuatmu tidak punya pilihan lain selain berteriak sekencang-kencangnya.
Sensasi itu, adalah segalanya di wahana Kora-kora. Tergelitik seperti tidak ada kepastian apa yang akan terjadi selanjutnya. Sensasi itu, rasa takut itu.
Lalu kalikan sepuluh, bahkan seratus.
Itulah rasa takut yang kurasakan.
Aku sendiri tidak pernah takut naik Kora-kora. Selalu ingin duduk paling ujung, karena aku mengejar sensasi itu. Tapi kali ini, perasaan itu sungguh berbeda. Ketika naik perahu raksasa itu, aku tidak pernah sedikit pun meragukan keamanannya. Biarpun aku diputar 360 derajat, tetap saja aku bakal naik. Tidak ada keraguan sama sekali.
Tapi bagaimana dengan ketakutan yang kurasakan ini? Sumpah, aku tidak tahu bagaimana menghadapinya sama sekali. Ada keraguan di setiap langkah. Apa ini benar? Apa ini salah? Dan aku kemarin menyimpulkan, bagaimana menumbuhkan keberanian di hati ini, kalau yang kutakuti tidak berwujud?
Semangatku habis. Nyaliku ciut. Sisa keberanianku habis ketika aku merasakan hal ini terakhir kali. Dan tidak pernah menyangka (atau mungkin sebenarnya aku sudah memperkirakan ini?) kalau aku akan merasakan ketakutan itu lagi. Yang pada apa juga aku bingung. Aku tidak tahu. Nah lhoo....
Aku belum menyimpulkan. Untuk sekarang, rasa takut itu masih bisa kusembunyikan di sudut kecil hati. Yang pada waktunya nanti, akan kuhadapi dengan perasaan bulat seperti menelan bola, atau muncul tiba-tiba sehingga mau tidak mau harus kuhadapi, siap tidak siap.
Halah...paling juga cuma PMS.
--Jaya
P.S. : Jaya itu, tokoh yang baru kuciptakan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terjelaskan. Namanya diambil dari dua suku kata di ujung namaku karena belum kepikiran yang lain. Dia cowo. Biar seru aja. =p
P.P.S. : Si cetak miring, itu aku, yang agak meragukan kewarasannya sekarang. Hahaha....
Kalau si sanguin dalam diriku ini sudah melewatkan tahun baru tanpa tujuan dan to do list di tahun baru ini, ternyata si melankolis...eh koleris...tapi kayanya... melankolis ini belum mau melepaskan momen itu begitu saja. Mungkin gara-gara itu, tanggal 1 Januari 2009 malam, aku merasakan ketakutan itu lagi.
Takut seperti apa?
Bayangkan kamu bermain wahana Kora-kora di Dunia Fantasi, Ancol. Duduk paling ujung. Dan ayunan perahu raksasa itu berada di titik tertinggi. Sembilan puluh derajat.
Napasmu tertahan. Jantungmu berhenti sedetik. Lalu jatuh. Dan sensasi itu terasa di perutmu, membuatmu tidak punya pilihan lain selain berteriak sekencang-kencangnya.
Sensasi itu, adalah segalanya di wahana Kora-kora. Tergelitik seperti tidak ada kepastian apa yang akan terjadi selanjutnya. Sensasi itu, rasa takut itu.
Lalu kalikan sepuluh, bahkan seratus.
Itulah rasa takut yang kurasakan.
Aku sendiri tidak pernah takut naik Kora-kora. Selalu ingin duduk paling ujung, karena aku mengejar sensasi itu. Tapi kali ini, perasaan itu sungguh berbeda. Ketika naik perahu raksasa itu, aku tidak pernah sedikit pun meragukan keamanannya. Biarpun aku diputar 360 derajat, tetap saja aku bakal naik. Tidak ada keraguan sama sekali.
Tapi bagaimana dengan ketakutan yang kurasakan ini? Sumpah, aku tidak tahu bagaimana menghadapinya sama sekali. Ada keraguan di setiap langkah. Apa ini benar? Apa ini salah? Dan aku kemarin menyimpulkan, bagaimana menumbuhkan keberanian di hati ini, kalau yang kutakuti tidak berwujud?
Semangatku habis. Nyaliku ciut. Sisa keberanianku habis ketika aku merasakan hal ini terakhir kali. Dan tidak pernah menyangka (atau mungkin sebenarnya aku sudah memperkirakan ini?) kalau aku akan merasakan ketakutan itu lagi. Yang pada apa juga aku bingung. Aku tidak tahu. Nah lhoo....
Aku belum menyimpulkan. Untuk sekarang, rasa takut itu masih bisa kusembunyikan di sudut kecil hati. Yang pada waktunya nanti, akan kuhadapi dengan perasaan bulat seperti menelan bola, atau muncul tiba-tiba sehingga mau tidak mau harus kuhadapi, siap tidak siap.
Halah...paling juga cuma PMS.
--Jaya
P.S. : Jaya itu, tokoh yang baru kuciptakan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terjelaskan. Namanya diambil dari dua suku kata di ujung namaku karena belum kepikiran yang lain. Dia cowo. Biar seru aja. =p
P.P.S. : Si cetak miring, itu aku, yang agak meragukan kewarasannya sekarang. Hahaha....
Langganan:
Postingan (Atom)