31 Mei 2009

Hari Terakhir, Episode Terakhir...

Melangkah pulang sendiri keluar dari kantor, ada pikiran yang menyusup di kepala. Ini hari terakhir, dan rasanya seperti menonton sebuah episode terakhir. Dan mungkin, seluruh pengalaman kerja ini bisa diibaratkan drama yang singkat.

Perkenalan pertama kali, malu-malu, mencoba menempatkan diri, mengenal karakter, membiasakan ritme. Seperti menonton episode pertama, ketika tokoh-tokoh diperkenalkan, siapa yang baik, siapa yang jahat. Ketika segala sesuatu belum terasa pas, gaya pakaian, model rambut, rasanya masih ada yang kurang.

Lalu kita mulai terbiasa, datang setiap pagi, makan siang, lalu pulang. Seperti suatu kesatuan yang tidak bisa lepas. Dan konflik terjadi, pertengkaran, kegagalan, kesedihan. Tentunya ada juga saat-saat jenuh, bosan, ingin pergi saja. Tapi kita tetap di situ. Seperti terus menonton drama yang membosankan karena kita berharap mungkin tokoh utama akan berbuat sesuatu, mungkin mereka akan melawan, mungkin...

Kerja praktek ini pun harus berakhir dengan cerita, episode yang tak harus berupa klimaks, tapi menjadi penutup.

Masuk kerja di pagi hari, sedikit telat seperti biasa, dan hari ini, semua orang akan pergi meeting, meninggalkan aku sendiri di kantor.

Rasanya sedikit sedih, ketika hari terakhir harus sendiri. Tapi kemudian, terjadi hal yang lebih tidak terduga, di saat aku berpikir tidak ada lagi yang mendesak untuk dikerjakan, klien meminta printout ini dan itu, kemudian ada masalah dengan bagian lain yang mengharuskan aku merevisi gambar dan lain-lain.

Sendirian, aku berusaha pelan-pelan menyusun gambar agak tidak salah, merevisi dan membagi mana untuk klien, mana untuk bagian lain, ini dan itu. Kemudian, lagi-lagi menghadapi masalah. Printernya ngadat. Argh....!

Tapi temanku pulang satu per satu. Yang pertama pulang setelah melakukan survey seharian, makan, lalu menemaniku ngobrol, membantuku mengedit gambar, dan pulang lebih dulu karena ditunggu pacarnya. Setelah dia pergi, yang lain pulang, menemaniku ngobrol, dan curhat. Obrolan yang tidak mungkin terjadi kalau kita tidak cuma berdua. Hahaha... Rasanya senang sekali. Setelah itu, dia juga pulang lebih dulu karena ditunggu mamanya.

Jam7 malam (ya betul, lembur di hari terakhir, seharusnya pulang jam3, hahahaha...), selesai. Mematikan semua komputer, membereskan meja, lalu mengucapkan terima kasih ke bos. Aku melangkah keluar dan menutup pintu.

Saat itulah, rasanya ingin menangis. Aku harus pergi. Sambil berjalan, aku memikirkan tentang episode terakhir ini. Andaikan tidak ada pekerjaan dadakan yang mendesak itu, aku tidak mungkin ngobrol dengan teman-temanku sedekat itu, dan yang jelas, tidak akan menghayati perpisahanku dengan kompleks itu. Aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kantor selama ini aku bekerja, kepada anjing favoritku yang masih menyalak kalau melihatku, kepada jalan yang mungkin tidak akan kulalui lagi.

Ini penutup yang sama sekali berbeda dari yang aku perkirakan, tapi benar-benar jauh lebih baik. ^^

28 Mei 2009

Sunrise....

...when you think everything is going to be better...

...when you feel that you can be anything you want...

...when you hold your hand and say nothing but gratitude...

...when the love is so much in you and you just want to let it out...

...when everything is beautiful no matter what they are...

...when you say thanks for just being here at this very present moment...

27 Mei 2009

Balance...

Everybody needs time to work and time to relax...


Today...

I relaxed in time to work and worked in time to relax

Sigh...



My eyes are hurt...anybody??

25 Mei 2009

The Lemot version of Me..

Hari ini di kantor diadakanlah acara beres-beres. Ugh...debu bertebaran di mana-mana, dan bagianku adalah ngeberesin brosur.

Singkat cerita, aku tiba-tiba bercerita sama teman "Dulu gw pernah ngebagiin flyer acara banyak banget, sedih deh klo ada yang nolak. Jadi sekarang kalau ada yang ngebagiin brosur, gw terima2 aja."

"Klo gw sih selalu nolakin brosur," kata si teman.

"Oh.." Terdiam oh ku terdiam...

"Lo ngga mau nanya kenapa gw selalu nolak?"

"Mank napa?"

"Soalnya klo kita menerima brosur, maka brosur akan cepat habis, lalu perusahaan akan mencetak lagi, maka penggunaan kertas akan semakin tinggi. Padahal dibaca saja tidak."

"Oh.." Terdiam lagi ku terdiam...


Padahal....

Alasan dia memang tidak salah. Tapi itu sebenarnya bisa membuka diskusi baru. Tujuan pencetakan brosur adalah untuk promosi, dan keuntungan langsung yang didapatkan oleh perusahaan atas penyebaran brosur tersebut hampir tidak ada. Toh...brosur itu hanya bersifat mempromosikan dan lebih bersifat untung2an. Tertarik beli, ngga ya udah.

Jadi menurutku, kalau kita menolak brosur tersebut, tidak berarti perusahaan akan mencetak brosur lebih sedikit lagi. Karena si tukang bagi itu sendiri dibayar untuk membagikan sejumlah brosur dalam sehari. Andaikan tidak habis, bisa saja si tukang bagi itu membuangnya ntah di mana. Sementara perusahaan sendiri mungkin sudah mempunyai jadwal berkala kapan promosi, kapan ngga.

Beda ya dengan penggunaan kantong plastik. Kalau kita menolak plastik dalam jumlah besar, otomatis permintaan menurun. Untuk menjaga harga tetap dan stok tidak terlalu banyak, perusahaan akan menurunkan produksi. Berkuranglah kantong plastik itu.

Jadi gimana?

Menurutku, menerima brosur tetap lebih baik. Kalau bisa dibaca dulu supaya tujuan brosur untuk menyampaikan informasi tercapai. Selain itu, si tukang bagi juga bisa melaksanakan "misi"nya. Setelah itu, kita bisa manfaatkan kertas brosur yang biasanya menggunakan art paper (seperti buat kalender) untuk hal yang lain.

Atau minimal, JANGAN BUANG BROSUR SEMBARANGAN. Kalau memang dari awal tidak berniat membaca, SEKALIAN JANGAN DITERIMA. Kumpulan sampah brosur dekat dengan si tukang baginya sungguh benar-benar tidak masuk akal.

Coba bayangkan kalau tadi aku bisa menjawab begini ke si teman....Huhuhu...