Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan

06 Desember 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows part 1




I fell in love with the first movie, and I started to devour the books.
The second confused me, but it’s okay.
The third disappointed me, the fourth brought back my trust.
It shattered by the fifth.
I didn’t care enough to watch the sixth.
And seventh, lucky number it is, made me fall in love all over again.

I always predicted the movie will started with action on the go. Seven Harry(es?) flew to the sky with their escorts, attacked by Death Eaters. Magic wand shots everywhere. People shouted. Action.

I glad I was wrong, because I liked the beginning even better. Instead of jump into action, we saw emotional suspense. Harry, Ron, Hermione, in their time before everything started again. Mostly I love how Emma Watson portrayed Hermione. Sadness, confused, but determined. She planned it all. Even to the safety of her muggle parents.

The scene when she used Obliviate charm to her parents was not in the book. We knew it happened. But instead of put it into dialog, they chose to show it. And I know from the emotion I felt then, this movie was going to be great.

One of my favorite part in the book, where Harry woke up in Black’s residence and he saw Ron and Hermione’s hands like they hold each other till they fell asleep. I had wanted to dance around because I was so happy they inserted that small moments.

Of course, not all the details were the same. I read the book about a year ago so I don’t remember it all. But, that’s what makes this movie much much better than the previous ones. Even without those details, it didn’t felt choppy. They warped such long scenes at Godric Hollows into just few minutes, but it’s still good to watch. And thank God, they decided to make it to two parts. Although we have to wait another year for part two, at least we get double awesomeness.

I believe, Harry Potter will become a legend, a tale itself. Harry Potter has become an icon. I never knew a world full of wizards can be so exciting before him. And I’m sure in another ten or twenty years, I’ll sit back and read all those seven books again, reminded by my own memories about this time when I’m still young. And maybe I’ll tell those stories to my children, and grandchildren, start with “Once upon a time, there’s a boy named Harry… “

09 Agustus 2010

Inception fever... !



How a tiny seed of idea in your subconscious grows 
to inspirations, thoughts, then actions? 

**SPOILER ALERT**

"Dom Cobb (Leonardo DiCaprio), seorang pencuri yang terampil dan terbaik, mencuri rahasia berharga dari pikiran bawah sadar yaitu mimpi. Cobb telah membuat kemampuan langkanya untuk menjadi pencuri bergensi di dunia tetapi juga membuatnya menjadi buronan internasional dan mengorbankan semua yang ia cintai

Saat ini Cobb ditawari dibebaskan dari tuduhan kriminal panjangnya. Tugas terakhir ini akan mengembalikan kehidupan normalnya hanya jika dia bisa melakukan hal yang mustahil. Alih-alih mencuri, dalam misi yang disebut Inception ini, Cobb diminta untuk menanamkan memori baru ke dalam alam bawah sadar targetnya. Namun tidak ada perencanaan dan keahlian yang cukup dari tim Cobb lainnya untuk menghadapi musuh berbahaya ini yang tampaknya mengantisipasi setiap gerakan mereka. Musuh yang hanya dapat dilihat oleh Cobb."

Penasaran karena banyak tweet yang bilang film ini keren banget dan wajib tonton, akhirnya saya menyempatkan diri untuk ikutan. Jujur saya (biasa) masuk studio setelah film dimulai, jadilah ngga benar-benar tahu awal filmnya bagaimana. Adegan Leonardo DiCaprio sedang makan bersama seorang penjahat mungkin, lalu "Mar" yang tiba-tiba muncul, entah kenapa ngga nyambung dengan sinopsi film ini yang saya baca di www.21cineplex.com seperti di atas.  

Beberapa menit setelah film dimulai, yang ada cuma bingung. Alurnya cepat dan berpindah-pindah dari dua setting. Sampai akhirnya menyempatkan diri buat buka link sinopsis di atas lagi di blackberry. Dan ternyata tidak membantu banyak.

148 menit kemudian.... wwooowww! Rasanya sudah berabad-abad ngga nonton film berkualitas begini *lebay* 

07 Juli 2010

Movie experience

Gw jarang nonton film di bioskop. Dan biasanya pergi menonton kalau ada ajakan saja.fakta yang aneh mengingat tugas akhir kemarin gw mendesain interior bioskop. XD

Tapi belakangan ini, menonton film rasanya beda dengan dulu.

Mungkin karena terlalu banyak baca recap drama korea di dramabeans.com dan gw kagum banget sama yang merecap (a.k.a si javabeans dan girlfriday). Mereka ga cuma sekedar menangkap alur cerita dari yang terlihat,tapi juga dari yang tersirat.

Hal-hal seperti ekspresi, dialog, suasana, bahkan warna-warna yang digunakan, seakan-akan semua bisa jadi petunjuk penokohan karakter A atau B, kemudian menimbulkan spekulasi kenapa dia begini atau begitu.

Karena itu, sekarang gw jadi kritis kalau nonton film. Dari musik, dialog, sampai plot, pokoknya nonton film jadi terasa lebih capek sekarang. Hahaha...

Contohnya, film yang terakhir gw nonton di bioskop adalah Karate Kid.

Baru ketika sampai bioskop, gw tau ini film Jackie Chan, dan masalah gw tentang film beliau akhir-akhir ini adalah tumpukan klise sepanjang film, walaupun dibuat dengan cukup baik.

Yang pertama gw komentari adalah musiknya, soundtrack film ini pas dan enak didengar. (Dan pertama kalinya ngeh lagu si Justin Bieber XDD)

Tapi tetap saja klise terasa, biar di beberapa tempat klise itu berhasil dihindari. Seperti yang paling gw inget adalah pas Jackie hampir menangkap lalat dengan sumpit dan memakannya, ternyata dia pakal pemukul lalat dan ga jadi makan itu lalat. =P

Bagian yang gw merasa terganggu adalah adegan bullying dari si murid Cina itu. Terlalu berlebihan. But it seems less people think that way. Dan bagian Jaden Smith ciuman, menurut gw itu ngga diperlukan dalam plot, dan rasanya kurang pantas buat anak umur segitu adegan ciuman. But again, maybe that's just me.

gw kurang suka plotnya yang menurut gw kurang mengalir, dan ngga jelasnya alur timeline di sini. Tapi harus gw akui film ini cukup bagus. Hehehe...

Nah kira2 itulah yang gw bilang sekarang gw makin kritis. Ga puas rasanya pulang cuma tau filmnya bagus atau jelek. Tapi jadi lebih mengamati, yang bagusnya di mana, yang kurangnya di mana.

Dan hasilnya, benar2 lebih capek pas nonton film. Hahahaha....